PULANG YANG KUANGGAP (CERPEN KARYA- ANISA ZULIS KELAS X. 28)

PULANG YANG KUANGGAP
Kata orang hidup itu harus dinikmati sebab kita hanya mengunjungi dunia sekali saja. Obu juga pernah berpesan, sebelum ia benar-benar senyap. Katanya hidupku harus dapat dirasakan dengan tenang dan nyaman.
Salam kenal, aku Wyn Azera, anak sulung dari dua bersaudara yang sama-sama dari kaum Hawa. Ayah pergi entah kemana jadi ibu harus banting tulang sendiri menghidupi kami. Nafasnya sering tersenggal namun tak kuhiraukan. Dalam ekonomi keluargaku yang buruk aku masih bisa merasakan hidup dengan barang mewah dan makanan lezat ysng ibuku pun belum pernah mencoba. Itu semua karena Nayella, teman dari masa kecilku.
Aku selalu menemaninya disaat ia butuh. Menyetujui pendapat yang tak selinni denganku dan meruti perkataannya. Waktu dihudupku sudah seperti milik Nayella sepenuhnya dengan kata lain dia yang mengatur setiap jam, menit, dan detik perharinya. Dalam keadaan sibuk pun aku masih menyempatkan diri mengerjakan setiap perintahnya padahal aku selalu absen di acara keluarga mulai dari berlibur bersama sampai merayakan ulang tahun ibu. Aku selalu melewatkannya. Semua kelakukan demi mendapati upah. Terkadang bukan karena uang melainkan pakaian, sepatu atau tas branded. Sekolah pun orang tuannya yang menanggung pemabayaran. Katanya sebagai balas budi saat berteman dengan ibuku dulu. Ini juga menjadi alasan mengapa aku lebih sering berada di samping Nayella daripada ibu. Nayella juga sudah pernah berkata bahwa aku adalah bagian dari keluarganya.
Sejak saat itu setiap aku ragu melakukan perintahnya, ragu menyetujui pendapat konyolnya, ragu menyelesaikan tugas sekolahnya ia selalu berkata. “Wyn.., kita kan keluarga. Keluarga harus saling bantu kan?” . Dengan begini pikiranku termanipulasi. Setiap aku berkeinginan pulang yang dimaksud Nayella adalah pulang ke rumah mewah miliknya. Sebenarnya aku tak begitu, mersakan kebahagiaan disana, kalimat pulang masih terambang di pikiranku dan tak terasa sama sekali. Namun bagaimana lagi? Aku terlanjur jatuh ke lubang yang ia buat.
Sampai pada suatu hari penyakit ibu semakin parah. Ia harus istirahat penuh untuk pulih. Bodohnya, aku tak pedulu malah bersenang senang menikmati upah dari Nayella. Seakan sekat yang dibuat Nayella antara aku dan ibu semakin rekat. Namun, suatu ketika adik perempuanku menelepon, meminta ku pulang menjaga ibu yang sudah menbicarakan kematian sejak dua hari lalu. Aku kembali, menjaga ibu sambil menyuapinya bubur ayam yang dibeli tadi pagi. Wajahku tak berealusi akan tetapi mulutku bergetar dan pandanganku tampak layu, aku terlalu egois untuk mengucap maaf. “Nak.. maaf ya.. ibu ngga bisa bikin kamu hidup dengan nyaman”. Aku menggeleng dibarengi alesan. “Engga, Nayella ngasih aku uang kok”. Sudut bibirnya melengkung aku semakin tak tega melihatnya.
“Justru itu nak.. ibu tahu kamu ngelakuin itu semua dengan terpaksa kan? Kamu ngga jati diri sendiri waktu sama dia kan? . Ibu tau, meskipun kamu jarang pulang, tapi kamu pasti rindu rumah. Rindu adik dan ibu”. Kalimatnya berhasil menyentil hati mungil ku.
“Maaf ya.. , kalo ada kehidupan selanjutnya semoga ibu akan jadi ibu kamu. Ibu bener-bener ngga pantes buat kalian”. Susah payah aku menahan air yang membendung, kalimat itu malah menyuruhnya kelaur tanpa henti. Aku tak berani menatap ibu, takut semakin deras isak tangis ini. “Nanti.. kalo ibu sudah pergi-“.
“Engga. Ibu jangan pergi dulu.., tolong hidup lebih lama bu, aku bisa minta uang ke Nayella biar ibu dirawat di rumah sakit”. Aku baru berani mengatakannya sambil terisak tangis yang semakin tak kaman.
Ibu menggeleng sebelum membalas . “Engga.. ibu sudah capek sakit terus- jaga adik ya?. Kalian harus hidup bahagia.”
Gelengan kepalaku cepat menolaknya. Aku memohon supaya ia bertahan sedikit lagi dan meminta maaf atas lahirnya anak durhaka ini. Perlahan kami berada tangisan, membuat suasana ruangan menjadi lebab dan hangat. Malah semakin kelam, kita berdua melewatinya sambil terisak . Sialnya saat pergi tiba ibu sudah tak lagi menangis, tak lagi berucap, tak lagi sakit. Ia benar-benar pergi meninggalakan kami.
Saat pemakaman tiba tubuhku terduduk di pojokan, memandangi figuranya yang membuat batinku babak belur di hantam keadaan. Aku menangis dalam sunyi, menyumpah serapahi diri sendiri. Dalam keadaan begini bisa-bisanya Nayella datang memaksaku menemaninya. Aku menolak, meskipun diancam tak mendapat uang lagi aku teguh tetap pendirian. Sejak saat itu kami jarang bertemu, aku yang memutus hubungan dan kontrak sampah yang mengikat kami. Bahkan aku rela keluar dari sekolah supaya tak menjadi beban untuk orang tua Nayella. Aku membuang lembaran lembaran usang penuh noda dihidupku jauh-jauh dan akan kupastikan lembaran sekanjutnya akan menjadi usang yang perlu dikenang.
Aku beralih profesi menjadi guru les guna menghidupi diri sendiri dan adik perempuanku. Tak apa, hidup memang tak harus melulu sesuatu yang kita inginkan. Setidak nya aku menjadi diri sendiri, tak perlu tertekan dan ini baru pulang yang kuanggap.

Karya : Anisa Zulis X 28 Sma An-Nur